“Teman
baik itu sulit untuk ditemukan, susah untuk ditinggalkan, dan mustahil untuk
dilupakan”.
Siapa sangka sesosok gadis
sederhana seperti Sherin bisa menjadi sahabat terbaik bagi Chiara? Bahkan
hingga sekarang Chiara masih belum menemukan seorang seperti sahabatnya itu.
Berpuluh-puluh teman sebaya yang ia kenal, tetapi tak satupun yang bisa
menempati tempat special yang sama yang telah diisi terdahulu oleh Sherin.
Sebisa mungkin Chiara mencari seseorang yang pas dihatinya seperti Sherin. Tapi
entah mengapa usahanya tetap saja belum membuahkan hasil. Itu kah yang benar-benar bisa disebut sahabat
sejati?
***
Chiara Alifya Savitri. Kia
adalah nama akrabnya, seorang siswi di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri
di Jakarta Selatan. Sekarang ia sudah duduk di kelas 11, dan jurusan yang
dipelajarinya ialah Ilmu-ilmu Sosial. Ia termasuk murid yang sebenarnya mampu
menyaingi teman-temannya, tetapi rasa malas yang ada pada dirinya selalu saja
membuatnya tersaingi. Faktor lain yang membuatnya seperti itu juga karena ia
sangat rindu kepada sahabatnya dan mengharapkan sahabatnya berada di kelas yang
sama dengannya. Ia termasuk gadis yang sangat ceria diantara teman-temannya.
Sewaktu ia masih duduk di kelas 10, ia tak sungkan untuk mengekspresikan dirinya
pada teman-temannya. Hal itu membuatnya tak begitu rindu pada sahabat lamanya,
Sherin. Namun tetap saja, rasa rindu
pada sahabatnya selalu menghantuinya. Dan saat ia berada di tingkatan dan kelas
yang baru, pergerakannya tak sebebas dulu. Ia merasa terkunci, ia merasa
terpenjara. Ia butuh Sherin sahabatnya.
Satu tahun penuh Chiara
menjalani sekolahnya tanpa sesosok Sherin disisinya. Hatinya terasa hampa
karena sahabatnya itu tidak berada di satu almamater yang sama dengannya.
Bahkan Kia juga tidak tahu persis dimana letak sekolah sahabatnya itu. Menahan
rindu yang tak bisa segera ia tumpahkan karena kesibukan mereka masing-masing.
Walaupun dalam jarak yang memisahkan mereka, kedekatan hati keduanya tidak
pernah berubah. Mereka masih sedekat sewaktu mereka masih di Sekolah Menengah
Pertama. Bukannya Kia tak ingin membuka
dirinya pada teman barunya, tetapi Kia berusaha mencari seseorang yang bisa
menerimanya apa adanya. Seperti Sherin yang selalu bisa menerima dan mengerti
semua keluh kesah Kia yang tidak semua orang bisa mengerti dan bisa
mengatasinya. Bahkan Sherin sangat pandai dalam menyimpan segala cerita yang
Chiara curahkan padanya. Karena itu Kia sangat percaya pada sahabatnya itu.
Memang hanya Sherin yang benar-benar Kia rasa sangat pas dan cocok dihatinya.
Kia tahu tak semua orang seperti Sherin. Dan Kia beranggapan bahwa hanya ada
satu manusia seperti Sherin di dunia ini. Kia terduduk di kasur kesayangannya.
Tak sengaja memori bersama Sherin terputar begitu saja diotaknya.
Ya, Kia menemukan sahabatnya
itu pada saat ia memasuki SMP. Mereka bertemu pada saat MOPDB di suatu SMP
Negeri di Jakarta Selatan. Sejak mereka berkenalan, kedekatan antara mereka
mulai terjalin. Mereka selalu melewati hari mereka bersama. Dikelaspun mereka
duduk berdampingan. Canda tawa selalu mengisi hari mereka. Susah senang juga
mereka lewati bersama. Tak ada satupun rahasia diantara mereka. Kia selalu
tanpa ragu menceritakan kisah pribadinya pada Sherin. Sherinpun begitu. Saat
salah satu dari mereka menceritakan pengalaman sedihnya, sahabatnya yang
lainpun ikut merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya. Tak jarang air mata
ikut menetes di mata kedua remaja itu. Dan saat salah satunya menceritakan
kebahagiaan yang ia rasakan, sahabatnyapun ikut kegirangan mendengar cerita
sahabatnya tersebut. Berbagai kesamaan nasib yang mereka dapati membuat mereka
yakin bahwa mereka akan terus bersahabat hingga mereka menutup usia. Karena hal
tersebutlah Kia susah untuk mencari pengganti Sherin. Bukan pengganti,
melainkan seseorang yang seperti Sherin. Karena bagi Kia, sesosok Sherin tidak
bisa tergantian.
Pada saat tahun ajaran di
SMP mereka ingin berganti, terjadi sedikit masalah diantara mereka berdua.
Salah satu teman sekelas mereka mengambil posisi Chiara. Sherin seperti
melupakan sahabatnya itu. Chiara tak bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya ia
mencaci temannya yang telah merebut Sherin darinya. Ia pun juga tidak bisa
melarang sahabatnya ingin berteman dengan siapa. Akhirnya Chiara mencoba
bersikap dewasa. Ia membiarkan Sherin bersama teman barunya. Walaupun begitu,
hati Chiara terasa perih saat melihat sahabatnya bersama orang lain. Chiara
mencoba menghibur dirinya dengan mempercayakan dirinya bahwa suatu saat Sherin
akan kembali lagi padanya. Kepercayaan hati Chiara terbukti. Pada saat kelasnya
melakukan pariwisata Kia mencoba bicara pada sahabatnya bahwa ia rindu tertawa
bersama sahabatnya itu. Kia membuang semua rasa canggung pada Sherin. Ternyata
Sherin merasakan hal yang Kia rasakan. Setelah pembicaraan singkat itu mereka
kembali seperti biasa. Dan sampai sekarang mereka masih dekat saja.
Chiara dan Sherin hanya
berada di kelas yang sama saat mereka kelas 7. Tetapi hal itu tak membuat
mereka melupakan satu sama lain. Memang, dengan terpisahnya mereka itu membuat
jarak diantara keduanya. Namun hati mereka tidak. Hal tersebut terbukti, karena
sampai saat ini mereka masih sangat amat dekat walau sekolah mereka terpisah.
Mungkin saat ini Sherin sudah bisa menemukan seseorang bahkan lebih orang
seperti Chiara. Terkadang Kia merasa iri dengan teman baru Sherin karena
kedeketan mereka. Kedekatan yang dulu pernah ia miliki. Terkadang Kia merasa
bingung terhadap dirinya sendiri karena masih saja belum bisa menemukan
seseorang seperti sahabatnya. Padahal sahabatnya saja sudah bisa menemukannya.
Chiara tersadar dari
lamunannya. Buru-buru ia mencari telfon genggamnya dan mengetik nama “Sherin”
di kontak bbmnya. Iapun mencurahkan segala isi hatinya pada Sherin. Ia sangat
rindu pada sahabatnya itu. Secanggih apapun tekhnologi saat ini, tak kan pernah
bisa membuat rasa rindu Kia pada sahabatnya hilang begitu saja. Iapun mengajak Sherin bertemu. Merekapun
memutuskan untuk bertemu disalah satu mini food court di sekitar Pejaten.
Sebelumnya mereka juga sudah pernah bertemu. Tak hanya berdua, tetapi bersama
teman-teman SMP mereka. Dan hal itu tidak menciptakan rasa puas dihati Chiara
karena tidak bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan sahabatnya itu. Dan
tepat pada tanggal 15 Mei 2014 mereka bertemu berdua saja. Rasa bahagia menyelimuti hati Chiara dan
Sherin. aka da rasa canggung diantara mereka, mereka tetap saja sama seperti
saat mereka masih duduk di kelas 7. Merekapun langsung bertukar pengalaman
mereka di sekolah masing-masing. Kia mengeluhkan pelajaran fisika, pelajaran
lintas minat yang ia dapat di jurusannya. Beda halnya dengan Sherin, ia
mengeluhkan pelajaran kimia yang sesuai dibidangnya. Tak hanya soal pelajaran,
merekapun menceritakan kehidupan pribadi mereka pada satu sama lain tanpa ada
keraguan diantaranya. Mereka membeli makanan kesukan mereka dan membaginya pada
sahabatnya. Tak lupa mereka mengabadikan momen kebersamaannya di telfon genggam
mereka. Canda tawa diantara mereka mengisi food court itu yang tidak begitu
ramai. Bahkan setelah mereka merasa puas disana, mereka memutuskan untuk pindah
tempat tetapi melakukan hal yang sama lagi tanpa ada rasa bosan diantara
keduanya. Raut bahagia dikedua remaja itu selalu menempel diwajah mereka.
Namun lagi-lagi Kia
tersadar dari lamunannya. Pertemuan itu adalah terakhir mereka bertemu. Hari
pun berganti minggu, minggu berganti bulan, kerinduan dihati Chiara semakin
menjadi. Untuk mengobati rasa rindunya, Kia menghubungi sahabatnya lewat telfon
genggamnya. Semua keluh kesahnya ia curahkan pada sahabatnya itu. Sejak
terakhir mereka bertemu, mereka selalu memimpikan mereka akan bertemu lagi
disuatu kesempatan. Bahkan Sherin berulang kali mengucapkan bahwa dirinya ingin
menginap di rumah Chiara lagi. Tanpa ragu Ciara mengiyakan permintaan
sahabatnya itu. Namun dikehidupan kita, tak jauh dengan sesuatu yang kita sebut
halangan dan rintangan. Ya, banyak sekali halangan yang selalu saja datang saat
mereka membuat keputusan untuk bertemu. Kia mencoba menghibur dirinya dan
sahabatnya itu dengan segala impian yang belum tentu akan secepatnya terwujud.
Saat Chiara sedang merasa
amat sangat membutuhkan teman untuk mencurahkan keluh kesahnya, ia mencoba
menghubungi Sherin. Entah karena hal apa, percakapan mereka selalu berakhir
dengan cepat. Mungkin karena kesibukan diantara mereka yang tak pernah habis
dan malahan semakin banyak saja. Namun sesingkat apapun mereka mengobrol, tak
pernah terasa garing dihati Kia. Saat mereka sedang chating, Chiara mencoba mengajak sahabatnya itu untuk bertemu.
Ingin rasanya mereka bertemu setelah seharian penuh bergelut dengan pelajaran.
Namun karena jam pulang sekolah keduanya cukup sore, mereka memutuskan untuk
tidak bertemu pada hari sekolah. Namun dihari libur, Sherin sudah punya
acaranya sendiri, dengan berat hati Kia mengikhlaskan untuk mengundur
pertemuannya dengan Sherin. Tak tahu hingga kapan. Chiarapun dengan sabar
menjalani harinya dengan memendam rasa rindu pada sahabatnya, Sherin.
Itulah sahabat, mereka
selalu ada disaat kita senang maupun susah. Hanya sahabat yang benar-benar
sahabatlah yang seperti itu. Bukan seperti sekarang. Banyak yang mengaku mereka
bersahabat. Tetapi saling menghina dibelakang sahabatnya. Mungkin karena hal
itulah yang membuat Chiara enggan mencari seseorang yang bisa ia sebut sahabat.
-070719-





Tidak ada komentar:
Posting Komentar