Kamis, 18 September 2014

Sahabat


 “Teman baik itu sulit untuk ditemukan, susah untuk ditinggalkan, dan mustahil untuk dilupakan”.
Siapa sangka sesosok gadis sederhana seperti Sherin bisa menjadi sahabat terbaik bagi Chiara? Bahkan hingga sekarang Chiara masih belum menemukan seorang seperti sahabatnya itu. Berpuluh-puluh teman sebaya yang ia kenal, tetapi tak satupun yang bisa menempati tempat special yang sama yang telah diisi terdahulu oleh Sherin. Sebisa mungkin Chiara mencari seseorang yang pas dihatinya seperti Sherin. Tapi entah mengapa usahanya tetap saja belum membuahkan hasil.  Itu kah yang benar-benar bisa disebut sahabat sejati?

***
Chiara Alifya Savitri. Kia adalah nama akrabnya, seorang siswi di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta Selatan. Sekarang ia sudah duduk di kelas 11, dan jurusan yang dipelajarinya ialah Ilmu-ilmu Sosial. Ia termasuk murid yang sebenarnya mampu menyaingi teman-temannya, tetapi rasa malas yang ada pada dirinya selalu saja membuatnya tersaingi. Faktor lain yang membuatnya seperti itu juga karena ia sangat rindu kepada sahabatnya dan mengharapkan sahabatnya berada di kelas yang sama dengannya. Ia termasuk gadis yang sangat ceria diantara teman-temannya. Sewaktu ia masih duduk di kelas 10, ia tak sungkan untuk mengekspresikan dirinya pada teman-temannya. Hal itu membuatnya tak begitu rindu pada sahabat lamanya, Sherin.  Namun tetap saja, rasa rindu pada sahabatnya selalu menghantuinya. Dan saat ia berada di tingkatan dan kelas yang baru, pergerakannya tak sebebas dulu. Ia merasa terkunci, ia merasa terpenjara. Ia butuh Sherin sahabatnya.

Satu tahun penuh Chiara menjalani sekolahnya tanpa sesosok Sherin disisinya. Hatinya terasa hampa karena sahabatnya itu tidak berada di satu almamater yang sama dengannya. Bahkan Kia juga tidak tahu persis dimana letak sekolah sahabatnya itu. Menahan rindu yang tak bisa segera ia tumpahkan karena kesibukan mereka masing-masing. Walaupun dalam jarak yang memisahkan mereka, kedekatan hati keduanya tidak pernah berubah. Mereka masih sedekat sewaktu mereka masih di Sekolah Menengah Pertama.  Bukannya Kia tak ingin membuka dirinya pada teman barunya, tetapi Kia berusaha mencari seseorang yang bisa menerimanya apa adanya. Seperti Sherin yang selalu bisa menerima dan mengerti semua keluh kesah Kia yang tidak semua orang bisa mengerti dan bisa mengatasinya. Bahkan Sherin sangat pandai dalam menyimpan segala cerita yang Chiara curahkan padanya. Karena itu Kia sangat percaya pada sahabatnya itu. Memang hanya Sherin yang benar-benar Kia rasa sangat pas dan cocok dihatinya. Kia tahu tak semua orang seperti Sherin. Dan Kia beranggapan bahwa hanya ada satu manusia seperti Sherin di dunia ini. Kia terduduk di kasur kesayangannya. Tak sengaja memori bersama Sherin terputar begitu saja diotaknya.

Ya, Kia menemukan sahabatnya itu pada saat ia memasuki SMP. Mereka bertemu pada saat MOPDB di suatu SMP Negeri di Jakarta Selatan. Sejak mereka berkenalan, kedekatan antara mereka mulai terjalin. Mereka selalu melewati hari mereka bersama. Dikelaspun mereka duduk berdampingan. Canda tawa selalu mengisi hari mereka. Susah senang juga mereka lewati bersama. Tak ada satupun rahasia diantara mereka. Kia selalu tanpa ragu menceritakan kisah pribadinya pada Sherin. Sherinpun begitu. Saat salah satu dari mereka menceritakan pengalaman sedihnya, sahabatnya yang lainpun ikut merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya. Tak jarang air mata ikut menetes di mata kedua remaja itu. Dan saat salah satunya menceritakan kebahagiaan yang ia rasakan, sahabatnyapun ikut kegirangan mendengar cerita sahabatnya tersebut. Berbagai kesamaan nasib yang mereka dapati membuat mereka yakin bahwa mereka akan terus bersahabat hingga mereka menutup usia. Karena hal tersebutlah Kia susah untuk mencari pengganti Sherin. Bukan pengganti, melainkan seseorang yang seperti Sherin. Karena bagi Kia, sesosok Sherin tidak bisa tergantian.

Pada saat tahun ajaran di SMP mereka ingin berganti, terjadi sedikit masalah diantara mereka berdua. Salah satu teman sekelas mereka mengambil posisi Chiara. Sherin seperti melupakan sahabatnya itu. Chiara tak bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya ia mencaci temannya yang telah merebut Sherin darinya. Ia pun juga tidak bisa melarang sahabatnya ingin berteman dengan siapa. Akhirnya Chiara mencoba bersikap dewasa. Ia membiarkan Sherin bersama teman barunya. Walaupun begitu, hati Chiara terasa perih saat melihat sahabatnya bersama orang lain. Chiara mencoba menghibur dirinya dengan mempercayakan dirinya bahwa suatu saat Sherin akan kembali lagi padanya. Kepercayaan hati Chiara terbukti. Pada saat kelasnya melakukan pariwisata Kia mencoba bicara pada sahabatnya bahwa ia rindu tertawa bersama sahabatnya itu. Kia membuang semua rasa canggung pada Sherin. Ternyata Sherin merasakan hal yang Kia rasakan. Setelah pembicaraan singkat itu mereka kembali seperti biasa. Dan sampai sekarang mereka masih dekat saja.

Chiara dan Sherin hanya berada di kelas yang sama saat mereka kelas 7. Tetapi hal itu tak membuat mereka melupakan satu sama lain. Memang, dengan terpisahnya mereka itu membuat jarak diantara keduanya. Namun hati mereka tidak. Hal tersebut terbukti, karena sampai saat ini mereka masih sangat amat dekat walau sekolah mereka terpisah. Mungkin saat ini Sherin sudah bisa menemukan seseorang bahkan lebih orang seperti Chiara. Terkadang Kia merasa iri dengan teman baru Sherin karena kedeketan mereka. Kedekatan yang dulu pernah ia miliki. Terkadang Kia merasa bingung terhadap dirinya sendiri karena masih saja belum bisa menemukan seseorang seperti sahabatnya. Padahal sahabatnya saja sudah bisa menemukannya.

Chiara tersadar dari lamunannya. Buru-buru ia mencari telfon genggamnya dan mengetik nama “Sherin” di kontak bbmnya. Iapun mencurahkan segala isi hatinya pada Sherin. Ia sangat rindu pada sahabatnya itu. Secanggih apapun tekhnologi saat ini, tak kan pernah bisa membuat rasa rindu Kia pada sahabatnya hilang begitu saja.  Iapun mengajak Sherin bertemu. Merekapun memutuskan untuk bertemu disalah satu mini food court di sekitar Pejaten. Sebelumnya mereka juga sudah pernah bertemu. Tak hanya berdua, tetapi bersama teman-teman SMP mereka. Dan hal itu tidak menciptakan rasa puas dihati Chiara karena tidak bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan sahabatnya itu. Dan tepat pada tanggal 15 Mei 2014 mereka bertemu berdua saja.  Rasa bahagia menyelimuti hati Chiara dan Sherin. aka da rasa canggung diantara mereka, mereka tetap saja sama seperti saat mereka masih duduk di kelas 7. Merekapun langsung bertukar pengalaman mereka di sekolah masing-masing. Kia mengeluhkan pelajaran fisika, pelajaran lintas minat yang ia dapat di jurusannya. Beda halnya dengan Sherin, ia mengeluhkan pelajaran kimia yang sesuai dibidangnya. Tak hanya soal pelajaran, merekapun menceritakan kehidupan pribadi mereka pada satu sama lain tanpa ada keraguan diantaranya. Mereka membeli makanan kesukan mereka dan membaginya pada sahabatnya. Tak lupa mereka mengabadikan momen kebersamaannya di telfon genggam mereka. Canda tawa diantara mereka mengisi food court itu yang tidak begitu ramai. Bahkan setelah mereka merasa puas disana, mereka memutuskan untuk pindah tempat tetapi melakukan hal yang sama lagi tanpa ada rasa bosan diantara keduanya. Raut bahagia dikedua remaja itu selalu menempel diwajah mereka.

Namun lagi-lagi Kia tersadar dari lamunannya. Pertemuan itu adalah terakhir mereka bertemu. Hari pun berganti minggu, minggu berganti bulan, kerinduan dihati Chiara semakin menjadi. Untuk mengobati rasa rindunya, Kia menghubungi sahabatnya lewat telfon genggamnya. Semua keluh kesahnya ia curahkan pada sahabatnya itu. Sejak terakhir mereka bertemu, mereka selalu memimpikan mereka akan bertemu lagi disuatu kesempatan. Bahkan Sherin berulang kali mengucapkan bahwa dirinya ingin menginap di rumah Chiara lagi. Tanpa ragu Ciara mengiyakan permintaan sahabatnya itu. Namun dikehidupan kita, tak jauh dengan sesuatu yang kita sebut halangan dan rintangan. Ya, banyak sekali halangan yang selalu saja datang saat mereka membuat keputusan untuk bertemu. Kia mencoba menghibur dirinya dan sahabatnya itu dengan segala impian yang belum tentu akan secepatnya terwujud.

Saat Chiara sedang merasa amat sangat membutuhkan teman untuk mencurahkan keluh kesahnya, ia mencoba menghubungi Sherin. Entah karena hal apa, percakapan mereka selalu berakhir dengan cepat. Mungkin karena kesibukan diantara mereka yang tak pernah habis dan malahan semakin banyak saja. Namun sesingkat apapun mereka mengobrol, tak pernah terasa garing dihati Kia. Saat mereka sedang chating, Chiara mencoba mengajak sahabatnya itu untuk bertemu. Ingin rasanya mereka bertemu setelah seharian penuh bergelut dengan pelajaran. Namun karena jam pulang sekolah keduanya cukup sore, mereka memutuskan untuk tidak bertemu pada hari sekolah. Namun dihari libur, Sherin sudah punya acaranya sendiri, dengan berat hati Kia mengikhlaskan untuk mengundur pertemuannya dengan Sherin. Tak tahu hingga kapan. Chiarapun dengan sabar menjalani harinya dengan memendam rasa rindu pada sahabatnya, Sherin.

Itulah sahabat, mereka selalu ada disaat kita senang maupun susah. Hanya sahabat yang benar-benar sahabatlah yang seperti itu. Bukan seperti sekarang. Banyak yang mengaku mereka bersahabat. Tetapi saling menghina dibelakang sahabatnya. Mungkin karena hal itulah yang membuat Chiara enggan mencari seseorang yang bisa ia sebut sahabat.



-070719-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar