Minggu, 19 September 2021

Rumah.

Rumah yang ku maksud bukanlah setumpukan bata.
Bukan juga tempat untuk berteduh dari terik matahari ataupun hujan, apalagi untuk tinggal.
Rumahku bukanlah sebuah bangunan.

Kamu.

Kamu adalah rumahku.
Tempat yang selalu aku tuju.
Tempatku untuk berbagi keluh kesah hingga kisah bahagia.
Tempat yang bisa membuatku nyaman.
Membuatku menjadi diriku sendiri.

Maafkan aku yang membuatmu kehujanan.
Hujan tangis dariku yang kerap kali terulang.
Maafkan aku yang membuatmu kepanasan.
Panas amarahku yang terkadang membara.

Aku berharap kamu tetap kuat menjagaku.
Selalu menjadi rumahku sampai kapanpun itu.
Dan aku berharap, akupun selalu menjadi rumah untukmu.


-452015-

Senin, 14 Juni 2021

Menunggu.

Menunggu adalah hal yang sangat menjengkelkan.

Entah menunggu dari hal apapun itu.

Menunggu kabar dari dosen pembimbing.

Menunggu tanggal untuk sidang skripsi.

Saat sudah dapat, kau tetap harus menunggu giliran untuk sidang.

Belum cukup, masih ada yang harus ditunggu yaitu wisuda.

Selesai wisuda mau apa?

Mau jadi apa?

Dengan kondisi bumi yang tidak baik-baik saja.

Menunggu untuk kembali normal.

Menunggu untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.

Menunggu waktu yang tepat untuk membangun masa depan yang entah kapan bisa dimulai.

Dan tetap mencoba membuat diri sendiri tetap waras.

Rabu, 26 Agustus 2020

Sedang Ingin Curhat.

 Setelah beberapa bulan ngga bikin tulisan ataupun curhatan, lagi pengen banget ngeluarin uneg-uneg beberapa bulan terkahir.

2020. Tahun kembar.

Tahun yang bisa dibilang banyak banget cobaannya. Cobaan buat semua orang di seluruh dunia sih bisa dibilang. Gimana ngga? Dari awal tahun, bahkan sebenernya dari akhir tahun 2019 itu ada outbreak virus di Tiongkok yang ternyata nyebar ke seluruh dunia. Indonesia yang awalnya masih ga kena eh kelamaan kena juga, dan penanganannya lumayan buruk. Sampe hari ini gue udah mendekam di rumah aja dari bulan Maret. Yang bisa dibilang udah 5 bulan ga kemana-mana. Yaa pergi sih, tapi kalo ada urusan mendesak aja, Alhamdulillahnya bisa nahan diri buat ngga nongkrong-nongkrong yang ga ada tujuannya. Lumayan banget bosennya. Biasanya seminggu dirumah aja udah uring-uringan, ini mau gamau harus mau di rumah aja. Yah mau gimana lagi..

Selain gue bosen banget yang berujung gue bisa stress karena di rumah aja. Gue juga lagi proses penulisan skripsi. Asli berat banget rasanya. Ditambah dospem gue kayanya ga paham sama kemauan skripsi yang gue tulis. Dari awal ngajuin judul aja tuh alot banget rasanya dah ampun. Ditambah lagi, gue ngambil data primer, Iya. Data yang bisa didapet langsung dari perusahaannya. Dan kondisinya lagi kaya gini, apa-apa jadi serba online. Perusahaan juga sempet harus mempekerjakan karyawannya di rumah aja. Yang alhasil bikin waktu tunggu gue buat dapet data jadi lebih lama karna harus nunggu kalo lagi ke kantor aja. Sekalinya dapet data, data yang gue minta salah. Karna gue ceroboh dan ga teliti buat nngecek jurnal-jurnal yang udah gue kumpulin sebelumnya. Alhasil gue nunggu lagi. Bisa dibilang, gue ngebuang 2,5 bulan cuma buat nungguin data doang. Mantapp bukan?

Tenang aja, karna gue anaknya lumayan rajin, jadinya pas datanya udah komplit langsung gue kerjain. Dah deh tu ngerjain sampe bab 5 kan. Baru ngasih ke dospemnya. And u know what?  Itu dospem gue minta buat nambahin alat analisis gue pake uji ujian yang ada di SPSS itu. Asli. Gue dari awal sengaja nyari jurnal yang kaga make spss, tapi ujung-ujungnya dosmpem gue minta ditambahin pake gituan. COK. Gue ga paham banget asli. Ngerjain deh ni, dibantu doi. Karna gue bener-bener kaga paham anjim. Dah deh tu ngajuin. EH BUSET. Katanya uji hipotesis gue salah cok bujug. Yodeh dah tu ngulang lagi kan dengan segala drama overthinking gue. Belom cukup gue pusing mikirin hipoyang salah. Tiba-tiba aje jam setengahh 10 malem dospem ngechat di group chat. Katanya cuma meriksa setiap selasa doang. Dan gue ntu ngerjain hari senen buset blom klar malemnya dibom gitu. Dan parahnya lagi ya kalo sampe tgl 5 Sept ntar gue blm dapet surat acc, gue harus bayaran. YA. BAYARAN LAGI. Sebagai anak pertama, gue merasa gagal dong ya. Ditambah lagi adek gue lagi nyari kampus juga. Baru maw masuk. Giman ague ga mikir kalo gue ini bukan beban keluarga coba? Anak pertama belom kelar skripsi dan masa harus nambah semester:). Makin tambah aja kan drama ini. Malem itu juga gue tetep dibantuin doi gue. Doi yang nyoba ngolahin data gue. Gue nya ngapain? Gue mah nangis aja di kamar ampe mata bengkak. Pusing pala. Akhirya tidur. Trus udah ngirim lagi nih. Tapi gatau dah kabarnya gimana. Dah gatau lagi gue harus ngapain sekarang. Berasa jadi beban keluarga banget. Cape sama drama mau kelar dari perkuliahan yg kea tay ini. Astaghfirullaah maaf ya Allaah aku kasar. Tapi aku cape banget ya Allah. Tolongin:(

Jumat, 27 Maret 2020

Cukup.

Cukup hanyalah sebuah kata yang begitu sederhana.
Hanya terdiri dari lima huruf.
Namun siapa sangka, untuk menjadi seseorang yang cukup sungguh sangatlah sulit.
Mencoba berbagai cara agar terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Menghabiskan banyak materi, waktu, bahkan tenaga.
Tak jarang pula ditemani dengan hujanan air mata.

Aku ingin merasa menjadi manusia yang cukup dimata orang lain.
Tapi kurasa keinginan itu terlalu berat.
Diri sendiri saja merasa bahwa aku tidak akan pernah cukup.
Tidak pernah cukup untuk membuat diri merasa bahagia.
Apalagi cukup membahagiakan orang lain.

Minggu, 26 Januari 2020

Terjal.

Mendengar kata terjal, yang terlintas dikepala biasanya jalan yang berada di pegunungan.
Tapi bukan hanya itu, perjalanan di dalam kehidupan ini pun juga cukup terjal.
Dan terlebih lagi banyak rintangan yang harus siap dihadapi.
Dimulai dari rintangan dalam belajar, menggapai impian, bahkan perihal cinta.

Sebelum terlahir di dunia inipun kita sudah menghadapi rintangan.
Berlomba bagaimana agar bisa menjadi zat yang kemudian menjadi sosok manusia mungil.
Dan itu hanya permulaan.
Jalan yang terjal sudah menanti saat kau meneriakan tangisan kecilmu itu.
Menantimu untuk ditapaki.
Saat dirimu merasa sudah kuat berjalan, jalan terjal itu sungguh senang.
Membuat dirimu jatuh, jatuh, dan terus jatuh.
Sampai tiba waktunya, kamu sudah terbiasa jatuh dan dapat mengatasinya.

Tidak berhenti sampai disitu.
Dunia ini memaksamu, mau tidak mau harus menuntut ilmu.
Entah disekolah impianmu atau tidak, dunia ini tak peduli.
Jalan terjal itu lagi-lagi membuatmu jatuh.
Membuat kakimu tak sanggup mencapai sekolah impianmu yang masih berada jauh dari tempatmu.
Dan terpaksa, mengambil sekolah terdekat dari tempatmu berdiri.

Belum puas dengan membuatmu kehilangan sekolah impianmu, jalan yang kau tapaki menuntunmu bertemu dengan manusia lain yang membuatmu merasakan cinta.
Bukan tugasnya kalau tidak membuatmu jatuh, jalan itu selalu saja menyulitkanmu.
Membuatmu jatuh dan merasakan sakit yang terlalu.

Tapi entah kenapa, dirimu selalu mencoba bangkit dari jatuhmu.
Melupakan segala sakit yang diperoleh.
Menjadikan semuanya menjadi pelajaran, sesuatu yang harus diingat agar tidak jatuh lagi.
Tetap terus berjalan dengan segala rintangan yang ada di jalan yang kau tapaki.
Tidak mau menyerah agar bertemu dengan jalan yang landai.
Jalan yang indah.
Yang selalu hadir disaat kamu berhasil melewati rintangan di jalan yang terjal itu.
Dan akan terus berulang.
Hingga akhirnya kamu menemukan ujung dari perjalananmu.
Yang selalu kamu harapkan, bahwa ujung perjalanan itu indah.
Dan membuatmu bahagia.

Senin, 17 Juni 2019

Arah.


Sederhananya, arah mata angin ada delapan. Akan kusebutkan agar lebih jelas.
Timur.
Tenggara.
Selatan.
Barat Daya.
Barat.
Barat Laut.
Utara.
Timur Laut.

Kata orang, jikalau tersesat lihatlah kompas dan jalanlah menuju utara.
Kelak kau akan menemukan, setidaknya satu petunjuk untuk menuju tujuanmu.
Namun bagaimana jika kamu bukan ingin pergi ke utara, yang akan bertemu dengan selatan?
Kamu ingin pergi ke timur, atau bahkan barat.
Sebenarnya ada cara lain.
Seperti yang orang tahu. Lihatlah arah terbit matahari. Itu menandakan timur. Maka sebaliknya, saat matahari terbenam. Itu menandakan barat.
Sesederhana itu bukan?


Setiap orang pasti sedang berjalan di dalam ceritanya sendiri.
Entah sudah punya tujuan, ataupun belum. Yang aku tahu, mereka tidak akan berhenti.
Mereka akan tetap berjalan walau tidak punya tujuan. Mempercayakan kepada waktu, bahwa suatu saat pasti akan datang petunjuk untuk menemukan tujuan mereka.

Aku juga tahu, pasti banyak persimpangan di jalan mereka. Bahkan rintangan, yang tak kian habis.
Di satu waktu, jalan yang dilewati tidak seindah seperti yang sudah-sudah. Ingin rasanya duduk sebentar, menceritakan betapa melelahkannya perjalanan ini. Namun jalan itu tidak begitu banyak menyediakan tempat untuk beristirahat, apalagi tempat untuk bercerita. Ingin rasanya mencari jalan yang baru. Yang mungkin lebih indah, lebih baik untuk ditapaki mungkin? Tak peduli apakah jalan itu milik orang lain atau bukan. Yang terlihat seakan sangat tepat untuk kakinya yang sudah mulai letih. Jalan baru itu terlihat begitu nyaman untuk dilintasi, banyak tempat untuk ia beristirahat. Berkeluh kesah tentang perjalannya yang tak kunjung sampai. 
Oh tidak. Apakah ia mulai kehilangan arah? Atau ia justru menemukan arah yang seharusnya ia tuju?
Ah. Ia hanya perlu melihat kompas, bukan? Dan ia akan terus berjalan sesuai dengan arah jarum yang menuntunnya. Hingga sampai ke peraduannya. Entah dimana. Ia akan sampai, dengan hati yang tenang, dengan hati yang senang.

Namun yang sebenarnya aku ingin tahu adalah; bagaimana agar aku tahu kemana arah hati ini ingin berjalan? Apakah aku juga membutuhkan kompas untuk menuntunku menuju kemana arah yang seharusnya ku tuju? Aku tidak ingin tersesat. Bantu aku, menemukan arah itu.


Kamis, 13 Juni 2019

(Selamat) Malam.

Hai, selamat malam.
Karena saat menulis ini, matahari sedang berada ditempat lain. Tergantikan dengan cahaya bulan yang redup namun menenangkan.

Bicara soal malam, satu hal yang selalu muncul saat mendengar kata malam adalah; gelap.
Banyak hal yang tak pernah terduga saat malam hari datang.
Bisa saja kamu tidak melihat apa yang bisa dilihat di siang hari, bukan begitu?
Terkadang malam dapat begitu mencekam, tetapi dapat juga menjadi begitu menenangkan.
Bagaimana bisa?

Mudah jawabannya.
Berbagilah waktu dan tempatmu kepada orang yang kamu sayang.
Bukan. Bukan hanya dengan kekasih. Tetapi adik, kakak, keluargamu, atau yang lainnya mungkin?
Ada pengecualian tapi, jangan bersama selingkuhan. Hehe.

Habiskan gelap malam dengannya, dengan mereka.
Aku bisa jamin, malammu akan terasa cepat. Tak hanya itu. Malammu menyenagkan. Bahkan menenagkan.
Apabila tidak bisa jumpa. Berkomunikasilah, dengan bertelfon ataupun dengan chatting.
Malammu tidak akan mencekam. Dan tidurmu akan penuh dengan senyuman.

Aku berani jamin.
Karena aku baru saja mengalaminya.

Senin, 03 September 2018

Tak Mudah.


Orang bilang, satu tambah satu itu dua.
Ya, memang semudah itu.
Tapi diantara nol hingga satu saja, masih banyak angka yang harus dilewati.
0,01 0,02 0,03 belum lagi 0,1 0,2 dan sekian banyaknya.
Bagaimana dari nol hingga dua?
Apalagi nol hingga sepuluh. Bahkan hingga seribu. Berapa banyak angka yang harus ditempuh untuk mencapai angka yang kita mau?

Terlihat mudah dan cepat memang.

Sama halnya seperti hari-hari yang telah ku lewati dengan mu.
Detik yang berganti menit, menit yang berganti jam, jam yang berganti hari, hari yang berganti minggu, minggu yang berganti bulan, dan bulan yang berganti tahun.
Dapatkah kau bayangkan apa saja yang telah kita lewati selama ini?
Berapa banyak masalah yang selalu bisa teratasi.
Saling mencoba memadamkan ego diri sendiri demi melihat yang lain tersenyum.
Memendam amarah yang kadang terlepas dan menyakiti satu dengan yang lainnya.
Namun hal tersebut tidak membuat aku atau kamu melenggang begitu saja.
Justru berada tepat di depan mata dan saling menguatkan.

Bagi orang lain yang melihat memang terasa cepat, terasa mudah.
Namun apa yang kurasa tidak semudah itu.
Dan tak semudah itu pula aku pergi darimu.
Maaf, aku tidak mudah pergi semudah dan secepat itu.

-231913-

Kamis, 12 Juli 2018

PMS and Period



Setelah sekian lama ga post di blog ini, rasa-rasanya gue gatel pengen ngepost sesuatu. Berhubung gue lagi ga puitis, gue mau sharing dan tanya-tanya buat para ciwi yang baca postan ini.

Pra Menstruation Syndrome atau yang biasa kita sebut PMS.
Apasih PMS tuh?
Sebenernya banyak yang salah artiin PMS dan Period itu sendiri.
Menjelang haid atau menstruasi biasanya beberapa wanita mengalami gejala yang tidak nyaman, menyakitkan, dan mengganggu. Gejala ini sering disebut dengan sindrom pra-menstruasi (PMS). PMS adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Biasanya gejala tersebut terjadi secara regular pada dua minggu periode sebelum menstruasi. Hal ini dapat hilang begitu dimulainya pendarahan, namun dapat pula berlanjut setelahnya. (doktersehat.com)
Yap. Setelah gue tulis artian dari PMS itu sendiri, gue mau sharing pengalaman atau hal-hal yang gue alamin setiap bulannya kalo lagi PMS.
Yang pertama. Yang paling mainstream adalah; cewe kalo lagi PMS pasti suka marah-marah, ngomel-ngomel, senggol bacok, apapun yang orang lakuin dimata cewe PMS selalu salah, pokoknya dia yang bener. Dan gue pun gabisa bohong. Gue pun kaya gitu. Kesandung pas lagi jalan aja, jalannya yang gue salahin. Asli.
Yang kedua. Makan mulu. Abis makan nasi, pengen ngemil yang manis. Abis ngemil yang manis, pengen ngemil yang asin. Abis ngemil yang asin, pengen minuman yang manis. Abis minum yang manis, nyari lagi cemilan yang asin. Begitu seterusnya.
Yang ketiga. Baperan. Ini beda-beda tipis sih sama yang pertama. Tapi kalo yang pertama kan si cewe selalu ngedumel, kalo yang ini bisa aja sih dipendem sendiri. Omongan orang dimasukin ke hati terus. Padahal cuma becandaan.
Diatas udah problem psikis yang gue beberin. Masih ada lagi problem fisik yang gue rasain. Entah itu kram perut, pinggang yang pegel, punggung pegel, pundak sakit.

Laluuu, sekarang gue mau bahas period-nya atau menstruasi, atau biasanya cuma disebut mens.
Menstruasihaid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduks. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus.
Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya, menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-kadang menstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari paling lama 15 hari. Jika darah keluar lebih dari 15 hari maka itu termasuk darah penyakit. Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10mL hingga 80mL per hari tetapi biasanya dengan rata-rata 35mL per harinya. (Wikipedia)

Yak. Artiannya udah. Sekarang pengalaman gue tiap bulan sewaktu d-day.
Yang pertama adalah. B a p e r a n  b a n g e t. Baper yang ini jauh lebih parah sih dibanding pas lagi PMS. Semua yang diomongin bener-bener masuk ke hati dan ngedekem, diem, nongkrong lama. Alhasil muncul mood yang kedua. Yaituuu..
Cengeng. Nangis all day long and all night long. Nonton tinkerbel aja gue nangis. Sumpah gaboong. Nonton The Good Dinosaur nangis. Nonton Ant-man pun gue nangis! Yaakkk. Se-cengeng itu.
Terus yang ketiga, hmmm ngantuk mulu. Mager. Males ngapa-ngapain. Dan kadang buat makan aja tuh males. Beda sama pas PMS yang bawaanya mau makan terus. Mungkin ngaruh dari mood juga kali ya karna lagi baperan, cengeng, jadi ga kepikiran buat makan.
Yang makin menambah derita gue adalah, udah sakit perut, kepala sakit, badan sakit, anemia semakin parah.
Okeh. Dari berbagai mood dan keseharian yang gue rasain tiap bulannya itu, suka menimbulkan percikan api sama orang-orang terdekat gue. Khususnya doi. Yak. Doi selalu kena efek samping dari PMS dan period yang udah gue beberin diatas. Sejujurnya emang udah dari guenya sendiri moodyan banget, ditambah lagi berbagai efek samping diatas. Apapun yang dia lakuin gue anggep kurang, kurang, dan kurang. Salah terus, salah, salah, salah. Ditambah gue yang baperan banget, ya jadi makin-makin aja yakan. Logisnya laki-laki adalah “halah. Masa gara-gara PMS bisa ngaruh ke mood.” “ah paling PMS dijadiin alesan doang” dll.
Bukan cuma ke doi aja. Ke temen-temen deketpun juga gitu. Jadi ngomel-ngomel terus. Bentak-bentak. Marah-marah. Karna mereka cewe, mungkin mereka maklum dan ngertiin. Karna guepun sering kena semprot mereka juga.
Tapi setelahnya gue selalu nyesel. Selalu ngerasa bersalah sama orang-orang yang kena semprot sama gue. Dan gue juga sering mikir “sebenernya tuh PMS sama period beneran ngaruh ke mood ngga sih?” dan pertanyaan itu masih jadi misteri buat gue.

Maybe that’s enough bacot dari gue. Buat ciwi-ciwi yang baca, kalian ngerasa gitu juga ngga sih? Asli. Gue pengen tau doang apa cuma gue yang kaya gitu, apa kalian juga?

Senin, 27 November 2017

Kata.

Sebuah kalimat terkadang mengandung banyak arti.
Entah itu tersurat, ataupun tersirat.

Seperti aku yang senang menyiratkan apapun kedalam sebuah kalimat.
Bukan sebuah kalimat, tetapi beberapa.
Contohnya seperti,
“Aku rela menjadi sebatang kayu bakar yang rela termakan oleh api. Dan biarkan aku menjadi abu disaat baramu habis terbakar. Jangan salahkan perubahanku, karena diriku yang baru adalah karena ulahmu.”

Atau yang lebih panjang,
Kamu adalah ombak, dan aku adalah pasirnya.

Berapa kalipun kamu menghantamku, aku akan tetap mengikuti arusmu.
Seberapa keras kau menghantamku, aku akan tetap berada di bibir pantai itu.
Dan disaat ritmemu melemah, akupun akan tetap berada ditempatku.

Mendampingi pasang surutmu disetiap waktu.
Mencoba selalu bertahan, agar pantai itu tetap indah.”

Aku merasa tenang disaat bisa bermain dengan kata.
Karena aku tahu, tak banyak orang yang memahami celotehku.
Cukup saja aku menyiratkannya agar hati ini terasa lega.
Karena aku tak pernah bisa menyampaikannya kepadamu.
Takut menyakiti perasaanmu, atau malah melukai perasaanku.

Untuk para pecinta sajak, aku tahu tulisan-tulisanku ini tak memenuhi kriteria tulisan ataupun sajak yang baik.
Mendekatipun, kurasa tidak.
Namun, izinkan aku mencitai kata dan menuangkannya.


Rabu, 08 November 2017

H a t i y a n g b a r u .

Hati itu pernah hancur.
Hancur menjadi kepingan-kepingan kecil tajam.
Bersusah payah aku merangkainya kembali.
Dengan rasa sakit yang teramat sangat karna kepingan itu begitu tajam.

Whoa.
Ada yang berani menyusunnya kembali.
Membantu menyusun sampai hati itu terbentuk kembali.

Ah, aku mohon maafkan aku.
Karena ku kau ikut terluka demi hati ini.

Aku takut kamu tidak kuat menjaganya.
Karena aku tahu, hati ini teramat rapuh.
Mudah saja tanpa sadarmu, kau hancurkan lagi kepingan yang sudah kita susun susah payah.

Ah, itu bukan karenamu!
Hanya aku saja yang terlalu ceroboh menjaganya.
Ku mohon maafkan kecerobohan ku.



-231913-