Senin, 17 Juni 2019

Arah.


Sederhananya, arah mata angin ada delapan. Akan kusebutkan agar lebih jelas.
Timur.
Tenggara.
Selatan.
Barat Daya.
Barat.
Barat Laut.
Utara.
Timur Laut.

Kata orang, jikalau tersesat lihatlah kompas dan jalanlah menuju utara.
Kelak kau akan menemukan, setidaknya satu petunjuk untuk menuju tujuanmu.
Namun bagaimana jika kamu bukan ingin pergi ke utara, yang akan bertemu dengan selatan?
Kamu ingin pergi ke timur, atau bahkan barat.
Sebenarnya ada cara lain.
Seperti yang orang tahu. Lihatlah arah terbit matahari. Itu menandakan timur. Maka sebaliknya, saat matahari terbenam. Itu menandakan barat.
Sesederhana itu bukan?


Setiap orang pasti sedang berjalan di dalam ceritanya sendiri.
Entah sudah punya tujuan, ataupun belum. Yang aku tahu, mereka tidak akan berhenti.
Mereka akan tetap berjalan walau tidak punya tujuan. Mempercayakan kepada waktu, bahwa suatu saat pasti akan datang petunjuk untuk menemukan tujuan mereka.

Aku juga tahu, pasti banyak persimpangan di jalan mereka. Bahkan rintangan, yang tak kian habis.
Di satu waktu, jalan yang dilewati tidak seindah seperti yang sudah-sudah. Ingin rasanya duduk sebentar, menceritakan betapa melelahkannya perjalanan ini. Namun jalan itu tidak begitu banyak menyediakan tempat untuk beristirahat, apalagi tempat untuk bercerita. Ingin rasanya mencari jalan yang baru. Yang mungkin lebih indah, lebih baik untuk ditapaki mungkin? Tak peduli apakah jalan itu milik orang lain atau bukan. Yang terlihat seakan sangat tepat untuk kakinya yang sudah mulai letih. Jalan baru itu terlihat begitu nyaman untuk dilintasi, banyak tempat untuk ia beristirahat. Berkeluh kesah tentang perjalannya yang tak kunjung sampai. 
Oh tidak. Apakah ia mulai kehilangan arah? Atau ia justru menemukan arah yang seharusnya ia tuju?
Ah. Ia hanya perlu melihat kompas, bukan? Dan ia akan terus berjalan sesuai dengan arah jarum yang menuntunnya. Hingga sampai ke peraduannya. Entah dimana. Ia akan sampai, dengan hati yang tenang, dengan hati yang senang.

Namun yang sebenarnya aku ingin tahu adalah; bagaimana agar aku tahu kemana arah hati ini ingin berjalan? Apakah aku juga membutuhkan kompas untuk menuntunku menuju kemana arah yang seharusnya ku tuju? Aku tidak ingin tersesat. Bantu aku, menemukan arah itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar