Rasanya ingin sekali aku mengatakan apa yang sebenarnya kurasa.
Ingin sekali memberitahumu.
Tapi aku takut.
Aku takut itu mengganggumu.
Mengusikmu.
Dan justru membuatmu benci kepadaku.
Ingin sekali memberitahumu.
Tapi aku takut.
Aku takut itu mengganggumu.
Mengusikmu.
Dan justru membuatmu benci kepadaku.
Rasanya ingin sekali memilikimu (lagi).
Memiliki hatimu seutuhnya.
Namun, apa dayaku?
Hati itu sudah dirampas.
Dirampas atau begitu saja kau obral?
Dirampas atau begitu saja kau obral?
Memang dia yang tidak tahu diri atau justru malah kau?
Bersenang-senangkah kamu saat ini?
Bersenangkah kamu bersamanya?
Bagaimana denganku?
Bolehkah aku senang? Bolehkah aku bahagia?
Aku ingin sekali. Izinkan aku. Izinkan aku merasa bahagia lagi.
Atau, ajari aku.
Mungkin saja aku lupa cara bahagia?
Bolehkah aku senang? Bolehkah aku bahagia?
Aku ingin sekali. Izinkan aku. Izinkan aku merasa bahagia lagi.
Atau, ajari aku.
Mungkin saja aku lupa cara bahagia?
Aku rasa itu karna kamu.
Kamu yang buatku lupa cara bahagia.
Kamu yang hilangkan bahagiaku.
Kamu pergi meninggalkan traumatis itu lagi.
Tapi aku juga ingin berterimakasih.
Saat ini aku bisa lebih lama menahan senyum yang bukan dari hati itu.
Yang dulu sering kulakukan tapi ternyata sekarang lebih sering aku lakukan.
Terimakasih juga kamu ajari aku untuk menyayangi tanpa harus memiliki.
:)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar