Raga ini terduduk manis di kursi merah di sudut rumah
Namun jiwa ini terasa memberontak ingin menjelajah
Tetapi raga ini menolak
Membiarkan diri ini hanya terduduk bersama lamunan
Hatipun tak ingin kalah
Betapa beraninya ia mencoba memberontak juga
Sudah kubilang padanya agar diam saja
Agar tak merasakan apa-apa
Tapi mengapa ia sungguh nakal?
Lagi-lagi lamunan ini membawa kenangan
Kenangan yang benar-benar tak ingin kuingat
Kenangan yang hanya membawa sesak
Membawa gelap serta harap
Yang kutahu, tak akan tergarap
Sekedar hanya ingin punya harap
Yang kupikir akan mematikan kenangan yang terperangkap
Namun ternyata harapan itu dipatahkan
Dipatahkan olehnya yang memberi harap
Kumohon, jangan kau beri harapan jika tak ingin diharapkan
Kau tak akan pernah tahu jeritan-jeritan lembut yang menyesakkan
Yang berasal dari hati dan pikiran
Yang tak pernah lelah beradu jeritan yang membuatku juga ingin berteriak
Ingin memberontak
Tapi cukup bagiku dengan hanya menulis sajak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar