Sebuah kalimat terkadang mengandung banyak arti.
Entah itu tersurat, ataupun tersirat.
Seperti aku yang senang menyiratkan apapun kedalam sebuah kalimat.
Bukan sebuah kalimat, tetapi beberapa.
Contohnya seperti,
“Aku rela menjadi sebatang kayu bakar yang rela termakan oleh api. Dan biarkan aku menjadi abu disaat baramu habis terbakar. Jangan salahkan perubahanku, karena diriku yang baru adalah karena ulahmu.”
Atau yang lebih panjang,
“Kamu adalah ombak, dan aku adalah pasirnya.
Berapa kalipun kamu menghantamku, aku akan tetap mengikuti arusmu.
Seberapa keras kau menghantamku, aku akan tetap berada di bibir pantai itu.
Dan disaat ritmemu melemah, akupun akan tetap berada ditempatku.
Mendampingi pasang surutmu disetiap waktu.
Mencoba selalu bertahan, agar pantai itu tetap indah.”
Aku merasa tenang disaat bisa bermain dengan kata.
Karena aku tahu, tak banyak orang yang memahami celotehku.
Cukup saja aku menyiratkannya agar hati ini terasa lega.
Karena aku tak pernah bisa menyampaikannya kepadamu.
Takut menyakiti perasaanmu, atau malah melukai perasaanku.
Untuk para pecinta sajak, aku tahu tulisan-tulisanku ini tak memenuhi kriteria tulisan ataupun sajak yang baik.
Mendekatipun, kurasa tidak.
Namun, izinkan aku mencitai kata dan menuangkannya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar