Dila baru saja pulang dari sekolahnya. Wajahnya yang hitam manis terhiasi peluh karena panasnya matahari. Sesampainya di rumah, Dila langsung mengambil dan memainkan handphonenya. Dengan jari-jari mungilnya, ia menjentikan huruf demi huruf, kata demi kata sehingga membentuk beberapa kalimat. Ia mengirimkan pesan singkat itu kepada teman laki-lakinya. Nanda namanya.
"hai Nan, udah pulang?" sapanya. Tak lama kemudian Nanda membalas pesan Dila.
"udah Dil. Kenapa? Udah kangen ya?"
"hahahaha apaansih nih Nanda, ge-er banget jadi orang;p"
"ye siapa yang ge-er. Aku bener kan?;p"
"ngga. Pokoknya Dila ngga kangen Nanda:p"
Sebesit dipikiran Dila mengatakan yang sejujurnya. Iya Nan, aku udah kangen sama kamu. Aneh ya. Tapi Dila sungkan untuk jujur kepada Nanda. Ya maklum saja, Dila kan perempuan. Biasanya anak perempuan itu suka jaim.
Dila dan Nanda adalah teman satu kelas. Mereka memang belum lama kenal. Tapi entah mengapa mereka mudah sekali berkomunikasi satu sama lain. Mereka sama sekali tidak merasa kesulitan atau malu saat pertama berkenalan. Mereka juga tidak sungkan untuk saling benrkirim pesan. Kedekatan mereka dimulai saat ada acara di sekolahnya. Pertamanya mereka dipaksa untuk saling berkomunikasi karena tugas mereka sama. Namun saat acara sekolahnya selesai mereka masih saling berkirim pesan. Mereka sudah hampir satu semester menjadi teman dekat. Teman dekat yang sangat dekat.
Diwaktu pelajaran kosong, Dila dan Nanda saling bercanda bersama. Raut wajah bahagia sangat terlihat diantara mereka. Seperti sepasang burung merpati yang baru dibebaskan dari sangkarnya. Saat sedang asiknya bercanda, tiba-tiba saja Fadli, salah satu temen sekelas mereka berteriak kepada Nanda "udah Naaann kalo suka mah tembak ajaaaa". Nanda hanya menatap Fadli dengan sinis, dan Fadli malah tertawa terbahak-bahak. Disisi lain, Dila kaget dan terpaku karena ucapan Fadli tadi. Difikirannya muncul hah Nanda suka sama gue? Ngga, ngga mungkin Dil. Nanda menepuk pundak Dila yang sedari tadi bengong dan langsung memaksakan senyumnya.
"lo ngapain bengong Dil?"
"hah? Kaga"
"serius? Omongan Fadli tadi gausah dipikirin.."
"siapa yg mikirin omongan Fadli hahhaha"
Nada keterpaksaan tawa Dila sangat jelas. Nanda hanya tersenyum melihat pola Dila saat ini.
Saat bel tanda usai belajar berbunyi, Dila langsung berlari keluar gerbang dan mencari jemputannya. Sesampainya di rumah Dila hanya memikirkan hal tadi. Kedekatan Dila dan Nanda bisa dianggap menjadi jawaban yang sedari tadi ada dipikirannya. Tapi ia tak mau mengambil jawaban itu sendiri. Sikap Nanda kepada Dila memang berbeda. Caranya memperlakukan Dila sangat istimewa. Dan Dila juga baru sadar. Ia sadar ada rasa yang tumbuh di dalam hatinya. Dila suka sama Nanda, apa Dila juga udah sayang ya sama Nanda? fikirnya.
Dila membenamkan wajahnya di bantalnya. Handphonenya bergetar. Ada pesan masuk yang ternyata dari Nanda. Hatinya mencelos. Ia sangat gembira, Ia sangat ingin menanyakan perasaan Nanda kepadanya. Namun pertanyaan itu ia simpan dalam-dalam. Ia hanya memberi tanda untuk Nanda, tapi Nanda bertingkah seperti anak kecil yang tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menanggapi Dila seperlunya saja.
Apaan sih nih Nanda, udah gue kodein ga jujur jujur juga. Capek digantung mulu. Emangnya gue layangan di gantung, tarik ulur pula. Hhhhh-_- bisik Dila dalam hati.
(bersambung)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar