Sabtu, 07 September 2013

Malam yang Indah

Marsha merebahkan badan di kasurnya yang lembut dan nyaman. Jam yang tergantung di dindingnya menunjukan pukul 11.50 malam. Ia memandangi langit melalui bagian transparan di langit-langit kamarnya. Bintang-bintang bertaburan di langit hitam malam, menambah kesan elegan bagi yang melihatnya.

Wajah Marsha tampak sangat berseri-berseri. Wajahnya tak henti-henti menyunggingkan senyuman termanisnya. Tatapannya memang kearah langit diatas kamarnya, tapi pikirannya pergi kemana-mana. Tidak. Tidak kemana-mana. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Orang itu bernama Emir. 

Ya, mereka memang berteman semenjak mereka duduk di Sekolah Menengah Pertama. Sekarang mereka duduk di Sekolah Menengah Atas kelas 11 IPA. Mereka teman sekelas. Bahkan tempat duduk mereka letaknya tidak begitu jauh. Emir selalu bertanya pada Marsha apabila ia mengalami kesusahan. Begitupun Marsha, ia juga tak sungkan bertanya pada Emir.

Malam ini, Emir sengaja menelefon Marsha. Pertamanya hanya untuk membahas tugas kimia mereka yang sangat rumit. Tapi pembicaraan mereka malah ngalor-ngidul. Membicarakan hal tak penting. Bahkan membicarakan tentang diri mereka sendiri. Saling memberi tanda bahwa mereka punya rasa yang sama. Tapi mereka menganggapnya hanya candaan semata. Walau didalam lubuk hati mereka ada keseriusan yang amat sangat dalam percakapan mereka di telfon.

"kamu lagi apa Shaaa?"
"aku lagi telfonan sama doi ku doong:3"
"wiih sama dong, aku  juga lagi telfonan sama doi akuu:3"
"ih kita sehati yaa Miiir"
"iya Shaa mungkin kita jodooh. Hahahahaha"
"hahahahaha Emir mah ngarangnya bisa aja"
"yee aku ngga ngarang kalii:p"
"masa siih? Apa buktinyaa?"
"kamu mau bukti? Bukti apa? Bukti aku sayang sama kamu? Aku sayang banget sama kamu beybii masa kamu ngga percaya sama aku siih?:("
"HAHAHAHAHA Emiirrr Emiiir...lebaynya keluar kan=))"
"HAHAHAHA iyaa jangan dianggap serius yaaa:p"
"ngga koook gue tau lo pasti cuma becandaa:p"

Itu lah salah satu percakapan mereka. Tak ada nada kebohongan sedikitpun saat mereka berbicara sepeti itu. Semua kata-kata itu memang mengalir begitu saja dari mulut Emir, dan Marsha juga tahu bahwa Emir serius mengatakannya. Tapi ia tidak ingin merubah suasana kedekatan mereka. Mereka tetap menikmati hubungan mereka sebagai sahabat. Sahabat dekat. Dekat sekali.

Tak disangka jam dinding menunjukan pukul 12.37 WIB. Tapi Marsha masih belum bisa tidur. Ia masih memikirkan kejadian tadi. Sama seperti Emir. Namun mereka saling membohongi satu sama lain. Mengatakan bahwa mereka sudah sangat mengantuk saat di telfon tadi. Tapi setelah hubungan telfon itu berhenti mereka beruda masih belum bisa tidur. Raut wajah bahagia sangat terpancar dari kedua remaja itu.

Itulah hal yang membuat Marsha tidak bisa tidur. Disisi lain ia sangat bahagia karena ia dihubungi oleh Emir. Tapi disisi lain ia juga sedih karena tidak bisa memiliki Emir sepenuhnya. Ia hanya berharap sesuatu yang sangat amat membahagiakan bagi mereka berdua datang secepatnya.

Setelah beberapa saat ia memikirkan hal itu, mata Marsha mulai mengantuk. Tanpa ia sadari, kelopak matanya turun dan menutup bola matanya yang indah. Ia tertidur dalam senyumnya. Dan bersama bayangan Emir dipikirannya.

-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar