"pak ayo jalan" kata Dila kepada supirnya.
"iya neng"
Di mobil, Dila hanya diam atau melihat jalanan dengan lesu. Wajahnya benar-benar kusut seperti benang layangan yang tak terpakai. Ia pun berjalan ke kelasnya dengan langkah terseret. Orang-orang memperhatikan dan menanyakan kabarnya, namun Dila hanya membalasnya dengan senyum terpaksa. Sesampainya di kelas ia juga langsung membenamkan wajahnya diantara lipatan kedua tangannya.
"Dil....lo kenapa? Pagi-pagi muka udah kusut jelek banget. Ceritaaa" ucap Vera.
"Gangape" jawab Dila dengan muka masih di atas kedua tangannya.
"Yaelah serius. Gua gaenak ngeliatnya"
"Gausah diliatin"
"DIH. Elo tuh ya. Kalo ada masalah ngomong. Jangan dipendem sendiri"
"Bawel lo. Ntar aja istirahat"
Disepanjang jam pelajaran, muka Dila tanpa ekspresi. Tanpa ia sadari, Nanda memperhatikannya dengan tatapan bingung dan merasa sedikit sedih. Dila kenapa ya, batin Nanda. Namun Nanda tidak mencoba menegurnya, ia hanya asyik mengobrol dengan teman-temannya.
Saat jam istirahat berbunyi, Vera langsung menarik tangan Dila ke arah taman di samping sekolahnya. Vera sangat amat penasaran dengan apa yang membuat Dila begitu lesunya.
"Ayok ikut gua" perintah Vera.
"Apaansiiiii"
"Kita ke taman"
"Iye woles bentar gua ngambil bekel"
Sesampainya di taman Dila tak langsung membuka mulutnya untuk menceritakan apa yang membuatnya begini. Namun rasa antusias Vera yang menggebu-gebu memaksa Dila untuk angkat bicara.
"Yaaa jadi giniiiiiiiii... Gua sama Nanda makin gajelas. Dia berubah Ver. Lo liat sendiri kan dia sekarang gimana? Sedih gua diginiin. Capek juga anjrit. Semalem gua nangis gara-gara dia. Apa itu karna gua sayang sama dia? Kenapa cepet banget gua bisa sayang sama dia? Gua salah ngga sih kalo gua pengen dia jadi milik gua? Salah ngga Verrr?....." air mata Dila menetes tanpa Dila sadari, Vera mencoba menenangkan dan menghibur Dila sebisanya. "Ya ampun..bilang dong Dil. Kenapa semalem lo ngga cerita ke gua sih? Lo ngga salah kok kalo lo udah sayang sama dia. Mana ada sih orang yang tau kapan cinta bakal dateng ke hidup kita? Kita juga gatau kan orang yang datengin cinta itu siapa? Lo juga ngga salah kok kalo lo pengen dia jadi milik lo, menurut gua sih itu naluri._. Udaah lo tenang yaa, jangan nangiss. Dila kan stronggg" jawab Vera sambil memeluk Dila.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Fadli menguping pembicaraan mereka dan langsung menghilang secepat angin. Ia memberi tahu Nanda kalau Dila menangis karena dirinya.
"Gebetan lo nangis tuh di taman"
"Hah? Serius lo? Gara-gara apaan?"
"Gara-gara elo bego"
"Kok gua si?"
"Deh ilah emang dasar cowo blo'on. Suka ga sih lo sama dia? Sayang ga sih?"
"Haa? Hmmmm gua gatau"
"Yaudah kalo gatau Dila buat gua"
"Anjir apaan lo Dli enak aje"
"Tuhkan lo marah. Tembak dia hari ini juga!!"
"Aelah"
"COPS lo anjir"
"Bacot lo"
Nanda terdiam cukup lama. Akhirnya bel tanda masuk ke kelas berbunyi. Nanda memikirkan semua yang dikatakan oleh Fadli. Sepanjang pelajaran, Nanda tidak fokus karena hal tersebut. Ia hanya mengangguk-angguk seperlunya saat guru menjelaskan. Fadli hanya terkekeh melihat temannya seperti ini. Sangat berbeda dengan Dila. Setelah menceritakan semuanya kepada Vera, Dila tampak lebih bersemangat dan sedikit ceria. Ia sudah bisa bercanda dan tertawa dengan teman-temannya. Seringai manis dari bibirnya membuat jantung Nanda berdetak lebih cepat.
"Wkakakakak tembak brooo" bisik Fadli.
"Bacot lo anjirrr"
Bel jam pulang sekolah pun berbunyi, semua anak merapihkan buku kedalam tasnya. Karena hari ini giliran Nanda dan Dila untuk membersihkan kelas, mereka tidak langsung pulang. Mereka tidak hanya berdua membersihkan kelasnya, masih ada dua orang temannya yang akan membantu mereka. Vera dan Fadli adalah dua orang itu. Mereka membersihkan laci meja anak-anak dan menyapu lantai hingga bersih. Setelah selesai membersihkan kelas, Nanda menarik tangan Dila. Ia menekuk sebelah kakinya dan bersimpu di depan Dila. Ia juga mengutarakan isi hatinya saat itu juga.
"Dil, you know it's too fast. But I don't know, as time flies, this feeling getting stronger. I love you Dil. And...and... Would you be mine?"
Tiga orang yang berada di kelas itu merasa kaget, begitupun Dila. Dila tak mampu berkata-kata dan ia hanya menganggukan kepalanya perlahan dan menyunggingkan senyum termanisnya.
"Yes, thanks babe. I will protect and love you always" ucap Nanda sambil memeluk Dila.
"WOOAAAAA PEJE PEJEEE!! HAHAHAHA congrats wooy akhirnyaaa. Make it last yaa!!" teriak Fadli dan Vera.
"Hahahaha apasih kalian" ucap Dila dengan malu-malu.
Hari ini menjadi hari yang amat spesial untuk Dila. Dila juga tak menyangka akhirnya Nanda mengutarakan isi hatinya juga. Tangis Dila selama ini terganti dengan kebahagiannya yang makin lengkap karena hadirnya Nanda.
-The End-
Yaaa yaaaa...setelah beberapa bulan Dila ditarik ulur sama Nanda akhirnya mereka jadian. Huhuhuuu selamat ya kaliaan:''') Semoga pengarang cerita ini bernasib beruntung seperti kalian yaaa. Semoga-semogaaaO:) HAHAHA ngimpi dolo ae lu Nap. Yaaa tapi AAAMIINN deh yaaa. Doain saya dong pembaca *apasih*. Terimakasih kepada teman-teman, kawan-kawan, pembaca semuanya. Maafkan saya apabila cerita ini masih buanyak kekurangan. Yaa namanya pemula, inipun cerita iseng-iseng. Okelah intinya terimakasih sudah bacaaa!! :D





Tidak ada komentar:
Posting Komentar