Di malam itu pikiran Dila hanya tertuju pada Nanda seorang. Ia juga tak mengerti kenapa ia selalu memikirkan Nanda. Mata Dila mulai lelah dan memaksa Dila untuk mengistirahatkannya. Dila pun tertidur dengan Nanda di pikirannya. Dila bermimpi. Dimimpinya ada Nanda. Memang tak begitu jelas kehadiran Nanda dimimpinya. Saat Dila terbangun, ia mencoba mengingat apa yang dimimpikannya semalam. Tapi ia tidak bisa mengingat mimpinya secara rinci, yang ia ingat hanya ada Nanda di mimpi gue.
Saat di sekolah Dila dan Nanda tidak seperti biasanya. Mereka sudah jarang mengobrol apalagi bercanda. Ini membuat Dila sangat sedih. Saat di rumah pun, apabila mereka sedang saling berkirim pesan, percakapan mereka sudah tak sedekat dan seindah seperti sebelumnya. Ingin rasanya Dila mengulang waktu saat ia dan Nanda masih sering bercanda di kelas dan mengobrol dengan sangat asyik di sms. Dila hanya menarik nafas panjang. Ia juga bingung apa yang menyebabkan "pertemanan" mereka akhir-akhir ini menjadi agak renggang. Sifat Nanda sekarang ini cuek.
"DIIILLLLLLL!" panggil Vera teman dekat Dila.
"Hah? Apaan si lo ngagetin aje" Dila terbangun dari lamunannya.
"Lo kenapa deh? Akhir-akhir ini kayanya murung banget.."
"Hah ngga. Gua gapapa"
"Yaelah buuu jujur aja kali sama gua mah. Nanda? Dia kenapa?"
"Azzz kok lo pinter banget baca pikiran gua sih Ver-_- jadi ginii......."
Dila akhirnya menceritakan apa yang ia rasakan akhir-akhir ini. Diceritakan semuanya kepada Vera. Kata-kata manis yang kadang Nanda ucapkan, kata-kata cuek Nanda yang kadang juga ia lemparkan padanya juga Dila ceritakan. Saat menceritakan hal itu kepada Vera, hati Dila terasa sedikit sesak. Cairan berwarna putih bening juga ingin menyeruak keluar dari mata Dila. Tapi ia tahan karena ia tak mau ada seseorang yang melihatnya. Vera pun mengerti apa yang Dila rasakan. Ia ingin sekali berteriak di depan muka Nanda. Ia ingin sekali berteriak "Lo tuh jadi cowo peka dikit kek. Ga liat ada cewe yang peduli sama lo? Duh udah di depan mata masih aja ga liat. Mata udah empat juga. Kasih kepastian juga kek elah. Jangan digantung gini temen gua, emangnya jemuran? Hati dia juga bukan layangan kali yang bisa lo tarik ulur. Yang pasti kek kasih kejelasan. Cowo blo'on". Dila tertawa kecil saat mendengar ucapan Vera tersebut. Rasanya ia ingin menyuruh Vera untuk mengatakannya langsung di depan muka cowo itu. Pernah saat ada jam kosong Vera hampir meneriakannya di depan Nanda. Tapi Dila menarik tangan Vera dan membekap mulutnya.
Saat Dila berada di rumah. Saat malam menyapa dan dewi malam tersenyum kepadanya. Saat sepi hanya menjadi temannya, wajah Nanda selalu muncul di pikiran Dila. Ia kesal karena tidak bisa menghilangkan Nanda dari pikirannya. Kalau saja Dila bisa memutar waktu, ia ingin tak mengenal Nanda segini jauh. Ia tak ingin mendatangkan suatu rasa begini cepat. Ia juga pasti memilih untuk berteman biasa dengan Nanda. Bukan pertemanan yang seperti ini. Bukan pertemanan yang memunculkan suatu rasa yang berbeda. Tak terasa cairan putih bening yang tadi Dila tahan di sekolah jatuh begitu saja dari mata Dila. Mengalir deras melewati pipi dan bibir Dila. Dila berusaha keras menahannya agar tidak jatuh lagi. Tapi semakin ia mencoba untuk menahannya, justru semakin deras cairan itu. Cairan itu adalah air mata. Dila sudah tidak bisa mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata lagi. Dan karena hal itu air matanya yang mewakili perkataan Dila yang tak terucap dari mulutnya. Dila berharap Nanda tau apa yang sebenarnya ia rasakan. Dila berharap Nanda bisa membaca dan menemukan dirinya ada di dalam pikiran Dila. Dila berharap Nanda bisa mendengar apa isi hatinya. Dila berharap, Nanda tau kalau dirinya jatuh cinta kepada Nanda.
Berhubung hari ini hari Sabtu, Dila tidak berangkat ke sekolahnya karena libur. Ia menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan dan menonton acara di televisi. Karena menghubungi Nanda sudah menjadi kebiasaan Dila setiap hari, aneh rasanya kalau ia belum menyapanya lewat pesan singkat. Akhirnya Dila mengirimkan pesan kepada Nanda "Hai Naaaann:3". Namun pesan Dila tak kunjung dibalas oleh Nanda. Ia mengirimkan pesan-pesan berikutnya dan tetap tidak mendapatkan balasan. Im done trying, batin Dila.
Jujur ya Nan, sebenernya gue capek lo giniin. Maksud lo apa sih bertingkah kaya gini ke gue. Kenapa juga lo bisa datengin perasaan yang beda di hati gue. Tapi kenapa lo ngga bisa tanggung jawab? Capek juga ternyata di tarik ulur gini...hati gue kan bukan layangan Naannn. Gue juga punya perasaan kalii. Kalo emang ngga suka ya ngga usah ngasih harapan. Kalo suka ya mbok yang jelas, jangan kaya gini.. Guenya sakit Nan :'). Ucap Dila dalam hatinya. Dila merebahkan tubuhnya di sofa dekat tempat tidurnya. Memikirkan Nanda yang entah memikirkannya juga atau tidak. Tak terasa air matanya mengalir dari pelupuk matanya.
Madafaa...kata orang kalo cewe ketawa karena cowo, cewe itu suka sama cowonya. Tapi kalo cewe nangis karena cowo, cewe itu sayang sama cowonya. Dafuk....apa gue sayang sama Nanda?......Ngga please.
(bersambung)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar