"hai nan. Hahahaha langsung nelpon gini"
"Iya dong. Katanya minta ajarin fisikaaa"
"hehehe iyaa. Yaudah ajarin dong nan"
"yang mana yang bingung?"
Di telfon, Nanda menerangkan cara mengerjakan PR mereka. Dila berusaha mengerti melalui penjelasan Nanda di telfon. Setelah Dila mengerti mengenai PRnya mereka malah mengobrolkan hal yang tak penting. Mereka bercanda ditelfon seperti saat mereka bercanda di sekolah. Tapi ditengah percakapan Dila mengantuk dan bicara pada Nanda kalau ia ingin tidur lebih dulu. Nanda mengiyakan.
Saat jam weker Dila berbunyi Dila langsung berjalan ke kamar mandi untuk mandi pagi dan melakukan rutinitasnya tiap pagi. Ia merasa sangat senang karena tadi malam ia berbicara panjang lebar dengan Nanda. Sesampainya di sekolah Dila tidak menemukan Nanda di kursinya. Kata Fadli, Nanda sakit. Dila langsung mengambil handphonenya dan menanyakan apa benar Nanda sakit atau tidak.
"nan, sakit? Sakit apa? Kok mendadak?..."
Tapi Nanda tak kunjung membalas pesan dari Dila. Dila mencoba mengerti kondisi Nanda yang sedang sakit. Namun ia selalu menunggu balasan dari Nanda. Di kelas, Dila tidak seceria seperti biasanya. Ia berharap ada suara Nanda yang selalu didengarnya setiap di kelas.
Saat jam pulang sekolah tiba, Dila berjalan lesu menuju parkiran mobil di sekolahnya. Supirnya sudah berada di sana dari 15 menit yang lalu.
"ayo pak kita pulang"
"iya neng, Kok muka neng lusuh gitu kaya pakaian belum di setrika aja"
"hehe ngga papa kok pak" ucap Dila sambil memaksakan senyumnya.
Sesampainya di rumah Dila langsung melempar tasnya ke sofa yang tak jauh dari tempat tidurnya. Ia mengambil hanphone dan merebahkan dirinya di kasurnya yang nyaman. Masih belum ada pesan dari Nanda. Ia pun mencoba mengirimkan pesan kepada Nanda untuk yang kedua kalinya.
"hei nan kok ngga bales sih? Segitunya ya yang lagi sakit? Get well fast ya bey({})" ucap Dila.
"hehe iya makasih;D"
"iya sama-samaaa. Besok masuk ngga?"
"hm Insha Allah masuk"
"okee. Udah ngerjain pr?"
"pr apa? Oiya ngeringkas ya?"
"yap"
"belom nih, kamu udah?"
"udah doongg"
"fotoin doong:3"
"yeh pengen banget? Yaudah bentar ya. Abis ngerjain langsung istirahat ya Nan"
"Iya Dilaaa:3"
Dila mengirmkan foto tugas ringkasannya. Setelah itu Nanda tidak membalasnya lagi, Dila kesal karenanya.
Keesokan harinya Nanda sudah tampak sehat. Dila hanya melihat Nanda dengan sekilas dan mengacuhkannya. Seharian ini Dila hanya diam dan memasang tampang betenya. Didalam hatinya ia ingin melihat reaksi Nanda melihatnya begini. Namun Nanda sibuk bermain dengan teman-temannya.
Saat di rumah, Dila langsung membersihkan badannya, menjalankan sholat ashar dan ia memilih untuk tidur siang. Dila bangun sekitar pukul 17:15. Ia berharap ada pesan dari Nanda. Tapi nyatanya tidak ada. Ia mencoba mengirimkan pesan kepada Nanda. Awalnya Dila kesal karena pesannya tadi malam tidak dibalas lagi dan Nanda juga tidak memedulikannya saat di kelas. Namun kata-kata Nanda dapat membuat Dila kembali bersemangat lagi.
Saat malam hari mulai menyapa, Dila mulai memikirkan Nanda. Ia juga masih berkirim pesan dengannya. Pikirannya pergi kemana-mana. Disisi lain Dila senang karena saat ia mengobrol di sms, Nanda amat sangat perhatian kepadanya. Tapi disisi lain, ia juga kecewa. Ia kecewa karena akhir-akhir ini Nanda lebih sering bermain dengan temannya daripada bermain dengan Dila. Perasaan Dila campur aduk. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan perasaannya kepada Nanda, tapi ia belum berani untuk memutuskan apakah ia suka kepada Nanda atau tidak. Sifat Nanda membuat Dila bingung. Nanda seperti hanya ingin memainkan perasaan Dila. Nanda seperti memberi Dila harapan. Saat Dila mencoba mengutarakan perasaannya kepada Nanda lewat gombalannya, Nanda seperti pura-pura tidak mengerti. Namun Dila sabar menghadapi Nanda.
"yaAllah buat Nanda peka dan ngerti maksud hamba dong yaAllah......." pinta Dila dengan rasa jengkel karena Nanda.
(bersambung)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar