Sabtu, 17 Oktober 2015

Bangkit.

Sang fajar mulai memudar, Sabtupun beranjak ke Minggu. Tiupan angin pelan memasuki kamar Afi melalui pintu balkonnya. Suara gemuruh petir samar terdengar, mengisi kesunyian malamnya. Ia terduduk di kasurnya, memikirkan hal-hal yang telah terjadi dua minggu belakangan. Ia ingat betul betapa kehilangan arahnya ia saat itu, betapa terpuruknya ia saat itu, betapa lemahnya ia saat itu. Sekarang ia mulai tersadar,  bahwa apa yang ia hadapi jauh lebih ringan dibanding rintangan orang lain yang iapun tidak tahu siapa.
Perkataan seorang lelaki yang melukainya ternyata obat hatinya pula. Nasehat seorang lelaki tersebut yang membangkitkan semangatnya pula. Dorongan dari teman-teman terdekat Afi membuatnya berfikir, membuatnya mengerti, dan membuatnya bangkit kembali. Ia sadar bahwa semua yang ia miliki hanyalah milik Tuhan semata. Semua yang Tuhan inginkan dapat Ia ambil begitu saja. Afi pun mengerti bahwa apa yang harus ia lakukan hanyalah berserah kepadaNya. Memanjatkan do'a dan mengukuhkan hati bahwa apa yang ia korbankan sekarang akan berbuah manis dikemudian hari.
Hatinya tersenyum, walau pahit rasanya. Semua hal indah bersama lelaki itu sekarang hanyalah sebuah kenangan. Kenangan manis yang pahit bila diingat. Terkadang ia merasa rindu dengan hal-hal manis itu. Namun ia berfikir lagi, apa yang ia anggap manis itu, belum tentu Tuhan menganggapnya manis juga. Afipun hanya memendam perasaannya. Mengubur segala ego yang ada pada dirinya, menguburnya dengan amat dalam. Berharap agar semua keinginan dan cita-citanya kelak akan menjadi nyata. Manusia, tidak pernah lepas dari keraguan, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan. Segala rasa pesimistis pasti pernah menghiasi kehidupan seorang manusia, tak terkecuali Afi.
Tak jarang dirinya merasa khawatir, khawatir jikalau lelaki pujaannya itu jatuh kelain hati. Ragu akan segala mimpi yang ia bangun tidak akan terwujud. Cemas akan segala tindakan lelaki pujaannya itu lakukan akan menarik perhatian perempuan lain. Dan takut jikalau lelaki tersebut memutuskan untuk meninggalkannya selamannya.
Namun segala rasa pesimis tersebut Afi buang jauh-jauh. Menggantinya dengan rasa optimis dan menyebut nama Allah disegala aktivitasnya. Berdo'a agar segala pengorbanannya sekarang akan terbayar kelak dan berharap bahwa semua yang ia impikan dan ia cita-citakan kelak akan menjadi kenyataan. Selalu berfikir bahwa semuanya akan indah pada waktunya. Berfikir bahwa semua air mata sedih yang ia keluarkan sekarang akan diganti dengan air mata bahagia dikemudian hari,
"Ya Allah, hamba mohon dengarlah semua curahan hati hamba ini. Kuatkan hati ini dan yakinkan ia bahwa mimpi hamba akan menjadi nyata satu persatu di jalanMu, dengan bantuanMu", pinta Afi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar