Matahari mulai turun, mempersilahkan bulan naik untuk menggatikannya sementara. Burung-burung berkicauan, menyanyikan senandung indah mereka. Berterbangan dan bercengkrama dengan kawannya. Angin berhembus perlahan, membelai lembut dedaunan. Sementara aku disini, duduk sendiri menangisi sesuatu yang belum pasti. Adakah dirimu sadar? Bahwa hanya aku yang tahu bagaimana engkau? Adakah dirimu sadar? Bahwa hanya aku yang peduli dengan semua tentang mu? Mungkin kau tidak pernah merasakan apa yang sebenarnya kurasakan. Rasa sayang yang amar dalam, rasa peduli yang tak pernah hilang. Andai aku diberi pilihan, aku lebih memilih agar aku tidak hidup selama ini. Andai aku dapat memilih, aku akan memintaNya agar mengambilku kembali padaNya diwaktu aku masih kecil. Diwaktu dimana aku belum mengerti apa itu cinta. Hidupku akan penuh dengan rasa suka, rasa senang, rasa bahagia. Aku akan hanya menangis disaat mainanku rusak, bukan perasaanku yang rusak. Aku menangis disaat mainanku hancur, bukan hatiku yang hancur. Tapi, mau bagaimanapun, mau sesakit apapun yang kurasa, hati ini tetap memilihmu. Menyerukan namamu dengan keras, meyakinkan diriku bahwa kaulah memang yang selama ini ia cari. Rasanya hati ini tidak ingin melepaskanmu, separah apapun engkau hancurkan hati kecil ini. Hati ini selalu sembuh karenamu juga, entah bagaimana caranya aku tak peduli. Berulang kali otak ini bertiak untuk melepaskan mu, tapi hati ini selalu menolak lebih keras lagi. Membuat diri ini berkecamuk dan hanyut dalam emosi. Hanya tangis yang dapat menjadi jalan keluarku. Hanya dengan menyakiti badan ini membuat hati dan pikirin tenang. Tidak. Teryata tidak. Memang hanya engkau yang dapay merusak dan memperbaiki hati ini. Hanya engkau seorang yang mampu melakukannya, Hanya engkau seorang yang amat kusayang..
-6161-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar